Senin, 07 Oktober 2013

belajar untuk belajar

Oase Iman
Belajar untuk Belajar


Hakikatnya hidup ini merupakan rangkaian proses belajar dan menempa diri agar menjadi lebih baik senantiasa. Sungguh, begitu banyak hal dapat disarikan dari perjalanan detik demi detik kehidupan kita. Hal-hal yang kita rasakan, kita lihat, kita dengar, kita keluarkan melalui lisan, semuanya bisa menjadi sesuatu yang sarat makna dan dapat memperkaya khazanah pengalaman kita untuk selanjutnya dijadikan modal bagi proses perbaikan diri, jika kita mau tentunya.

Little things mean a lot, ya, banyak hal kecil yang sesungguhnya memiliki makna yang begitu besar, jika saja kita mau sedikit lebih memperhatikan, sedikit melihat lebih ke dalam, dan sedikit saja berpikir. Ketika kita hanya memandang sesuatu dengan cara biasa, semuanya akan tampak biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, seakan memang demikianlah seharusnya.

Ketika peristiwa-peristiwa yang kita temui atau kita jalani hanya lewat begitu saja, maka ia hanya akan menjadi masa lalu hampa nilai yang tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa. Padahal jika kita mau sedikit saja menggali lebih dalam, mungkin tidak sedikit bekas-bekas berharga yang tertinggal di sana. Sebagaimana halnya mutiara, sebelum ada yang mengeluarkannya dari cangkang sang kerang, tidak ada yang dapat merasakan pancaran keindahannya.

Menjadi pembelajar sejati, hal yang cukup sulit dilakukan saya rasa. Bagi saya, seorang pembelajar sejati akan selalu mencoba mencari celah pembelajaran dari setiap kejadian yang dialaminya maupun kejadian yang dialami oleh orang lain. Sungguh saya ingin menjadi orang seperti itu: yang senantiasa dapat memaknai hidup dari sudut pandang positif, yang mampu melihat nilai-nilai yang belum tersingkap, serta mampu memunculkan keberhargaan walaupun begitu tersembunyi adanya. Siapa yang tahu di dalam cangkang kerang yang gelap tersimpan mutiara yang begitu indah jika tidak ada yang mencoba menyelam ke dasar lautan dan mendapatkannya. Ya, mutiara itu akan tetap ada, terlepas dari apakah ada yang berusaha membuka cangkang kerang tempatnya bersemayam atau tidak.

Belajar, belajar, dan belajar, menunjukkan bahwa manusia benar-benar makhluk yang memiliki banyak kelemahan dalam dirinya. Belajar, bagi saya merupakan bagian dari proses menyaya (diambil dari istilah seseorang dalam sebuah tulisan *meng-aku), menjadi saya, saya yang benar-benar saya, saya yang benar-benar dapat memberikan banyak manfaat bagi orang lain, semoga. Dan proses ini belum akan berhenti sampai ajal menjelang, dan maut datang menjemput. Saat itulah saya baru dapat menunjukkan dan mengatakan "Inilah saya, saya seutuhnya, saya yang sesungguhnya".

ftz12@yahoo.com


eramuslim.com

Aku Masih Sendiri

post by khusnul khotimah


Sebagai seorang lelaki yang masih lajang dan umur sudah mendekati dua puluh lima, hasrat untuk menikah selalu ada. Namun, mental, ilmu, serta keyakinan masih belum siap. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut bukan alasan, artinya hanya dengan modal nekad tak banyak yang perlu di pertimbangkan, dan kenyataannya banyak yang menikah tanpa perhitungan yang matang, tak melihat ketentuan umur yang telah di tetapkan oleh Pemerintah, tak pernah memperhitungkan apa bekal yang akan di persiapkan, semua ini tergantung pada niatnya masing-masing.

Saudaraku yang baik, semua orang mengharapkan berumahtangga itu dalam keadaan tentram, sejahtera, penuh dengan ketenangan, dan diantara kiatnya adalah harus dengan ilmu. Sebagaimana Allah telah berfirman di dalam Al’Qur’an yaitu surat Ar-Ruum Ayat 21 yang artinya : Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya, Dia menciptakan untuk kamu istri dari jenismu supaya kamu tentram bersamanya. Dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang yang berpikir.

Sahabatku, bagi seorang yang sedang merantau atau tinggal di kota seperti saya ini, banyak sekali pertimbangannnya untuk menikah, diantaranya kuliah belum beres, tempat tinggal masih ngontrak, gaji belum setabil, tapi saat aku lihat cucian tertumpuk di kamar mandi, kamar yang berantakan, kondisi badan yang sering sakit, hasrat untuk menikah kembali semangat.

Sekarang aku mulai sadar kalau cucian sering tertumpuk, kalau kamar sering berantakan, kalau badan sering sakit, ternyata “ aku masih sendiri.”

Kalau melihat kondisiku sekarang ini, artinya gaji yang belum stabil, bahkan setiap bulan sering kehabisan anggaran sehingga makan kadang tiga kali dalam sehari bahkan terkadang dua atau satu kali dalam sehari, sepertinya ini keputusan yang tepat menurutku untuk sendiri. Bahkan sepertinya teman-teman di kantor akan merasa iri kalau aku menikah duluan, kenapa ! karena ada diantara teman-temanku yang secara umur jauh lebih lebih tua, entah kenapa teman-teman ku di kantor yang sudah pada maksimal umurnya belum juga menikah, alasannya belum siap mental, atau mungkin masih mencari yang lebih baik segalanya.

Jika ada sahabat yang kondisinya sama seperti aku sekarang, yang terbaik kiranya untuk tetap semangat, sabar, ikhtiar, dan senantiasa semangat untuk terus memperbaki diri. Kita yakin semakin terus memperbaki diri maka Allah akan memberikan yang terbaik pula. Begitu pula mengenai jodoh insya Allah, Allah akan memberikan yang terbaik, semoga Allah senantiasa membimbing kita semua dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian serta cobaan. Amin...(Rahmat Maulana)


manajemenqolbu.com